R E A L L Y R E A L L Y
​
song mino x kang seungyoon
​
smut ; fluff
​
oneshot ; school life au ; holiday trip au
​
-kairay 2017.
â–²
​
Hari-hari santai baru bisa dirasakan setelah menyelesaikan ujian, dengan bonus nilai yang bagus, menyelesaikan sekolah, dan akhirnya menikmati liburan. Mencapai usia legal untuk minuman beralkohol, berkeliaran sampai larut malam ke tempat-tempat yang orang dewasa datangi; karaoke, dan clubbing. Membuat driving license supaya tidak perlu menunggu bus malam terakhir kalau tidak ingin ketinggalan dan akhirnya tidak bisa pulang. Dunia orang dewasa memang menyenangkan.
​
Karena nilai ujiannya yang bagus, Kang Seungyoon 18 tahun, sudah bisa merasakan semuanya sekarang. Mulai dari minuman beralkohol sampai driving license. Tapi dia sama sekali tidak tertarik ke dunia yang seperti itu. Buatnya, menjadi murid yang pintar di sekolah sudah menghabiskan banyak energi dan waktu, dia tidak sempat bersosialisasi. Ditambah dirinya yang kikuk dan tidak tau harus bagaimana ketika bertemu seseorang membuatnya semakin malas memiliki kehidupan sosial.
​
Sikapnya yang penyendiri membuat Seungyoon aneh. Postur tubuhnya yang kurus, pemalu, dan tentu saja canggung dengan temannya apalagi dengan gadis, juga aneh. Hobi membaca yang membuatnya jadi kutu buku dan memasaknya juga. Tapi dia juga bukan golongan anak yang dikucilkan di sekolahnya.
​
Seungyoon tidak punya teman dekat, benar-benar tidak punya. Hanya berteman biasa saja dengan semua orang karena menurutnya semua sama. Orang-orang yang sama kutu buku dengannya sampai orang kaya adalah teman kalau Seungyoon mengenal mereka. Seungyoon orang yang sederhana, baik cara hidupnya dan jalan pemikirannya.
​
Dia lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan, harus, karena dia orang pintar. Tidak menyukai olahraga karena staminanya payah. Selera humornya payah. Keahlian bermain gitarnya, juga payah. Kesimpulannya ya… Seungyoon memang biasa saja. Dia murid yang tidak mencolok.
Jadi, ketika Mino mengajak Seungyoon untuk menghabiskan liburan akhir tahun pelajaran di Jeju dengan Jinwoo, Seunghoon, dan Taehyun, dia merasa aneh.
​
Mereka itu senior –minus Taehyun; yang terkenal karena mereka pangeran sekolah. Orang-orang yang tidak pernah melihat tag harga sebelum membeli sesuatu, tidak pernah mencari uang karena uang datang dengan sendirinya. Anak orang kaya yang menghabiskan uang untuk apa yang mereka pakai, untuk hobi, untuk segalanya.
​
Mino dengan gila pesta dan koleksi wanitanya. Jinwoo atlet renang yang selalu jadi kebanggaan sekolah. Seunghoon sangat sering menghabiskan waktu gambling di kasino. Taehyun yang bersenang-senang setiap malam sebagai DJ.
​
Mereka semua berbanding terbalik, berbeda 180 derajat dengan Seungyoon yang terkesan old fashioned. Ditambah kacamata yang digunakan karena mata minusnya, dia semakin terlihat culun saja.
​
Seungyoon tidak yakin kenapa Mino mengajaknya – atau mengundangnya; karena tidak mungkin dia bisa masuk kedalam golongan mereka. Dia memang mengenal mereka semua, tapi tidak pernah menghabiskan waktu bersama, tentu saja. Mereka ‘kan berbeda sekali.
​
“It will be cool to hang out. Tahun pelajaran sudah berakhir, aku kenal banyak wanita dan karena aku mengenalmu, sekali-sekali kau harus mencoba. Seungyoon, kau ini sudah besar. Dengarkan kata seniormu ini dan kau akan tau rasanya bersenang-senang.”
​
Tidak mungkin dia ikut dengan alasan seperti itu. Dia harus bicara apa dengan eomma nanti? “Aku tidak tahu.” Dia tidak bisa bilang eomma-nya kalau dia ingin ikut hanya karena ada Mino, ‘kan?
​
“Ayolah, Seungyoon. Bantu kami memasak. Disana nanti tidak akan ada yang menyediakan makanan dan pasti mengganggu kesenangan. Jadi, bagaimana?”
​
Oh, dia mengerti. Alasannya ada disana untuk membantu memasak. Seandainya Mino dan yang lain mengundang wanita dia tidak akan ikut; dia tidak mau ikut. Oke, dia mungkin agak penasaran karena itu juga alasannya memutuskan untuk ikut. Dia ingin lihat aktivitas apa saja yang dilakukan pangeran sekolah. Tapi dia berjanji, hanya ingin tahu.
​
“Hyung, seandainya aku ingin membantumu juga, aku tidak punya uang untuk pergi ke Jeju apalagi untuk disana.” Mino harusnya tau, dia mengajak orang yang biasa-biasa saja. Seungyoon juga harusnya sadar, dia tidak mungkin bepergian dengan Mino.
​
Mendengar itu Mino langsung tertawa dan menepuk pundaknya, merangkulnya. “Tenang saja untuk itu. Disana kita akan menetap di villa-ku jadi tidak perlu khawatir hotel. Khusus untukmu aku akan membelikan tiket gratis. Juga untuk makanan yang harus kau masak untuk kita semua. Bagaimana, belum pergi saja sudah terdengar menyenangkan ‘kan?”
​
Jadi begini, dia bisa pergi ke Jeju. Tanpa perlu mengeluarkan uang sepeserpun. Jadi begini rasanya, berteman dengan orang kaya. “Ah, aku tanya eomma dan appa dulu.” Tidak sopan kalau dia langsung menerima hanya karena mendengar semuanya gratis. Walaupun memang karena itu, ditambah, ini Mino yang mengajaknya.
​
“Aku sudah tau jawabannya, babe. Sabtu pagi, oke? Aku akan datang menjemput.”
​
â–²
​
Mino benar-benar datang dan menjemputnya. Sebenarnya dia sama sekali tidak berharap itu akan jadi kenyataan karena tidak mungkin, ‘kan? Tapi buktinya Mino menjemputnya. Eommanya sangat panik ketika seseorang yang sangat tampan dan sangat orang kaya memasuki rumahnya.
Bagaimana kau bisa berteman dengan orang se-kaya itu dan tidak pernah memberitahu eomma?
​
Seungyoon tidak membawa apa-apa selain baju ganti dan MP3 playernya. Dia memang tidak pernah merasakan, tapi dia tau kegiatan apa yang dilakukan dengan wanita. Jadi ketika Mino dan yang lainnya melakukannya, dia akan berada di kamar mendengarkan lagu sekeras mungkin.
Oh, juga satu toples kimchi buatan eommanya yang memaksa.
​
Ternyata perjalanan menuju bandara tidak menyenangkan. Mino adalah tipe orang yang senang cari ribut dengan pengguna jalan lain, “dakchyeo*!” He is the worst driver, ever. Mobil super mahal yang dipakainya ini tidak membuatnya jadi cool. Cara mengemudinya lebih buruk dari ugal-ugalan, atau mungkin orang yang baru belajar menyetir sekalipun. Dia pikir dia melaju di sirkuit balap sambil mengumpat pada pengemudi lain yang menghalangi jalannya, “gae saekki neo**!” hingga rasanya telinga Seungyoon akan berdarah.
​
[*shut the fuck up ; **son of a bitch]
​
Ketika sampai, semua orang sudah menunggu di bandara. “Yo man! Senang sekali rasanya Seungyoon datang,” Seunghoon langsung menyambutnya dengan merangkulnya.
​
“Hyung, tidak tau akan bagaimana kalau tidak ada kau yang memasak. Mino-hyung bilang kau pintar memasak,” Tidak juga. Seungyoon memang suka memasak, tapi dia tidak yakin apakah dia benar-benar pandai memasak.
​
Jinwoo diam saja, tapi dia memberikan Seungyoon senyum lebar dan langsung membalikkan badannya. Lagi-lagi, karena kelemahannya dengan orang lain, dia tidak tau harus merespon bagaimana dengan sambutan mereka.
​
Perjalanan tidak terlalu lama dan menurutnya sudah menyenangkan – ini pertama kali Seungyoon naik pesawat. Dia dapat kursi dekat jendela jadi selama satu jam pandangannnya diarahkan keluar jendela, sama sekali tidak menyia-yiakan waktu yang dia punya. Mino disebelahnya sama sekali tidak peduli dengan pemandangan. Dia hanya tidur dengan alasan lelah menyetir –mungkin mulutnya yang lelah, karena dia menyetir menggunakan mulut dibanding kaki dan tangannya.
​
Villa milik keluarga Song letaknya terpisah dengan bangunan lain, di daratan yang lebih tinggi dengan jalan setapak yang sedikit menanjak. Jadi, ketika Mino menunjuk sebuah bangunan dari jauh, semua sudah bisa melihatnya. Villa itu juga luar biasa besar. Cocok dijadikan tempat liburan mengusir penat, karena letaknya itu yang jauh dari mana-mana. Bangunan yang benar-benar mewah, ditambah pemandangan pantai yang sangat jelas.
​
Tidak ada yang menempati villa besar itu, bahkan pelayan pun tidak. Kalau ada yang akan menggunakannya, keluarga Song akan menyewa asisten kepercayaan mereka untuk membersihkannya seperti sekarang ini, ketika Mino menggunakannya.
​
Dari luar, lapangan hijau-nya saja sudah lebih besar dari rumah Seungyoon. Di belakang ada lapangan untuk olahraga juga kolam renang. Di dalamnya banyak sekali kamar dan ruangan santai, begitu sampai yang lain langsung berebut kamar tidur paling besar. Seungyoon dengan beruntungnya mendapat satu yang menghadap langsung ke pantai – bagian ini juga menyenangkan. Pertama-tama, tempat tidurnya besar, berbeda sekali dengan ranjang single bed yang dia punya di rumah. Kedua, ruangan yang nyaman dan besar ini untuk dirinya sendiri. Surga sekali.
​
Semuanya terlihat bersemangat membicarakan apa yang akan mereka lakukan dua minggu kedepan. Tentang rencana berenang di pantai, keliling Jeju, barbeque di halaman, dan tentu saja minum-minum hingga mabuk adalah hal pasti yang akan dilakukan setiap hari. Seungyoon tidak dengar mereka membicarakan wanita. Setidaknya belum. Dia yakin cepat atau lambat mereka akan membawa pulang gadis-gadis dari pantai. Sekali lagi, Seungyoon akan berada di kamarnya dan mendengarkan musik keras-keras saat hal itu terjadi. Dia payah dalam urusan menghadapi wanita, memang.
​
“Kita ke pantai setelah ini?” Seungyoon bertanya untuk meyakinkan, habisnya mereka terlalu banyak membicarakan hal yang ingin mereka lakukan sampai Seungyoon bingung apa yang benar-benar akan mereka lakukan sekarang.
​
Mino mengambil barang bawaan milik Seungyoon yang masih ada di teras dan berjalan melewatinya. “Dalam 15 menit.” Mendengarnya, Seungyoon ingin bersiap-siap tapi tangannya ditarik oleh Mino, “Mau kemana?”
​
“H- hyung b- bilang 15 menit lagi?” Kecanggungannya ini terjadi karena dia tidak pernah berinteraksi dengan orang lain. Apalagi sedekat ini. “J- jadi aku- i-ingin ganti baju,”
​
Mino melepaskan pegangannya pada tangan Seungyoon dan detik berikutnya langsung menarik keluar baju yang dikenakan Seungyoon. “Apanya yang ganti baju, babe. Sekarang sudah selesai ‘kan?”
​
Apa itu? Cepat sekali, Seungyoon bahkan tidak sempat melihat Mino akan membuka bajunya. Beberapa detik yang lalu dia berpakaian lengkap, sekarang tinggal bawahannya saja. Otaknya tidak bisa mencerna kejadian apa yang barusan terjadi.
​
Mino menyeringai sambil menatapnya, membawa pergi baju Seungyoon dan meninggalkan Seungyoon di teras. Dengan ekspresinya yang beku.
​
â–²
Semua orang bangun siang keesokan harinya. Seungyoon yang biasanya rajin bangun pagi juga baru keluar dari kamar jam sepuluh. Begitu dia sadar ini sudah siang, dia langsung bergegas ke dapur, dan disana sudah ada Taehyun.
​
“Ah, pagi, hyung,” untuk beberapa saat dia memperhatikan apa yang dikerjakan Taehyun di dapur, dan Taehyun hanya melihat-lihat bahan makanan saja. “Baguslah hyung sudah bangun.”
​
Seungyoon yang ingat alasannya ada disini langsung mengeluarkan beberapa bahan makanan untuk membuat sarapan; atau mungkin lebih tepat makan siang. “Yang lain belum bangun?”
​
“Hanya Jinwoo-hyung yang sudah, dia sedang berenang di belakang.”
​
Hanya Jinwoo yang tidak terpengaruh kegiatan kemarin – semalam, setelah bermain di pantai yang menurut Seungyoon sangat melelahkan, mereka memutuskan untuk pergi jalan-jalan sebelum kembali ke villa. Lalu akhirnya barbeque di halaman depan sebagai makan malam – yang bekasnya saja belum dibereskan sampai sekarang – Seungyoon tidak ikut bagian minum-minum hingga larut malam. Tidak butuh orang lain untuk memberitahunya, dia sendiri sudah tau dia juga payah urusan itu.
​
Bahkan dia yang tidak ikut mabuk saja bangun siang, tapi Jinwoo sudah bisa berenang. Jinwoo-hyung hebat sekali. Pantas saja dia dibicarakan semua orang.
​
Setelah menyelesaikan acara makan siang yang hanya diikuti oleh tiga orang, Seungyoon kembali ke kamarnya. Yang lain ingin melanjutkan jalan-jalan, kemarin mereka melakukannnya terburu-buru karena sudah lapar. Seungyoon tidak ikut karena cuaca panas sekali – ini siang hari ditambah musim panas juga. Dia menghabiskan sisa hari dengan melihat-lihat villa dan membaca buku yang ada. Bagian ini menyenangkan – tapi anak-anak kaya itu pasti tidak mengerti bagian mana yang menyenangkan dari melakukan hal membosankan seperti itu.
​
Ketika malam tiba, Seungyoon baru sadar dia melewati hari ini dengan melakukan hal-hal tidak menarik – bukan dia saja, tapi ternyata yang lain juga. Setelah tadi siang berjalan-jalan selama 1 jam, mereka kembali dengan muka suram. Mino bilang, tujuan mereka mencari wanita tidak berakhir dengan baik, sejauh ini tidak ada yang menarik untuk standar mereka. Seunghoon bilang mereka sial sekali.
​
“Hyung, ayo pikirkan hal yang bisa kita lakukan sekarang,” sudah 10 menit mereka semua hanya tidur-tiduran di lantai yang dingin, sampai akhirnya Taehyun mengingatkan lagi kalau mereka harusnya berpikir.
​
Sambil menunggu kegiatan apa yang ingin mereka lakukan, Seungyoon memasak makan malam – dia membuat pasta. Ditemani wine, yang akhirnya dia minum karena Mino dan yang lain memaksa – sampai kepalanya terasa sedikit pening.
​
Setelah makan malam, Seunghoon sudah terkesan akan mati bosan dan tidak berhenti mengeluh. “Bagaimana kalau video game?” Usulnya sambil menunjuk console Nintendo Wii yang tersimpan di dalam lemari kaca dekat televisi ruang tengah.
​
Hampir tidak ada yang antusias dengan usulan itu – sebenarnya Seungyoon ingin, tapi menyenangkan versi mereka berbeda dengan dirinya. Walaupun dia tidak terlalu bisa menggunakan alat itu, tapi setidaknya main.
​
“Tidak seru.” Mino bahkan hanya membalik-balikkan halaman majalah yang dia baca tanpa melihat Seunghoon berbicara.
​
“Kita buat pertandingan dan taruhan supaya jadi seru,” Jawab Seunghoon. Dia ingin mempertahankan idenya. “Taruhan yang tidak biasa-biasa saja.” Apapun yang keluar dari mulutnya memang tidak jauh-jauh dari gambling.
​
“Taruhan semacam apa?” Akhirnya Seungyoon mendengar suara Jinwoo. Dari kemarin, rasanya baru sekarang Seungyoon dengar Jinwoo berbicara; atau mungkin karena Seungyoon tidak ikut acara jalan-jalan tadi siang.
​
“Tidak tahu,” jawab Seunghoon sambil mengangkat bahu. “Kau ada ide?”
​
“Aku tahu!” tiba-tiba Mino yang daritadi terlihat tidak bersemangat mendudukkan dirinya dan melempar majalahnya tidak tahu kemana. “Yang kalah akan melakukan apapun yang kita inginkan.”
“Misalnya?” Oke, Seungyoon mulai khawatir dengan permainan ini. Hal-hal yang diinginkan orang kaya seperti mereka pasti…. aneh.
“Apa saja,” jawab Seunghoon menyeringai, mengakui otak jahatnya itu kalau sudah membahas taruhan. “Kita bisa pikirkan itu nanti ketika ada yang kalah.”
“Kalau dia menolak untuk melakukannya bagaimana, hyung?”
Semuanya hening terlihat berpikir – tapi Seungyoon tidak. Kepalanya sekarang diisi kekhawatiran. “Dia harus mencuci pakaian kita semua disini sampai hari terakhir, juga menjadi pembantu.” Usul Seunghoon. Itu adalah hukuman paling buruk untuk anak-anak kaya dan manja seperti mereka, Seungyoon pikir.
“call.” Mino yang pertama kali menyetujui permainan ini. Bahkan dia langsung mengeluarkan game console dan menyiapkannya. Mungkin memang karena dia tuan rumahnya disini.
Satu demi satu memutuskan untuk ikut dalam permainan, tapi Seungyoon masih ragu. Kekhawatirannya di awal sama sekali tidak berkurang, mengenai keinginan anak orang kaya seperti mereka ini. Mungkin, dia memutuskan untuk tidak ikut.
“Kalau begitu aku tidak ikut, ya? Aku akan ke kamar,” Seungyoon sudah beranjak dari duduk bersilanya dan bersiap kembali ke kamar sampai Mino membuka suaranya.
“Tidak ada pengecualian, Seungyoon. Kau juga ikut.” Sebenarnya, Seungyoon bukan sepenuhnya tidak mau, salah satu alasannya ingin ikut karena dia tidak mau dianggap pecundang. Tapi lagi-lagi, dia sangat ragu karena dia tidak tau apa yang akan terjadi kalau sampai kalah.
“Aku-“
“Tidak ada alasan, Seungyoon. Anggap saja ini permainan biasa.” Seunghoon menambahkan. Dalam hati, Seungyoon tidak menemukan alasan apapun yang bisa membuatnya pergi dari sini. Dengan ragu dia akhirnya menyetujui ikut permainan ini, dia benar-benar tidak mau dianggap pecundang sendirian.
Apa hal terburuk yang bisa didapatkan kalau dia kalah selain mencuci baju dan jadi pembantu? Itu kalau dia menolak. Rintangan pertama ada pada Seunghoon yang jago taruhan dan freak itu, bagaimana kalau dia membuat permintaan aneh-aneh. Tapi mengingat Mino adalah pemimpinnya disini, mungkin dia yang akan membuat keputusan. Itupun kalau dia tidak sedang sial dan kalah.
Permainan dimulai setelah menentukan urutan pemain. Aturannya sederhana, gunting-batu-kertas untuk menentukan pemain yang berhak memilih game yang dia inginkan, dan pastinya keuntungan besar bisa memilih game yang tidak bisa dimainkan lawannya. Yang kalah akan ditanding kembali sampai tersisa satu orang.
Sesuai dugaan, Lee Seunghoon yang pandai bermain menang telak melawan Mino di pertandingan sepak bolanya. Seungyoon dengan sialnya kalah di pertandingan boxing dengan Jinwoo – atmosfer permainan mereka tidak menyenangkan. Jinwoo yang awalnya dengan baik hati bilang dia akan sengaja mengalahkan dirinya sendiri malah menghabisi karakter yang dimainkan Seungyoon.
Dia terpaksa harus bermain lagi di ronde berikutnya.
Tersisa Taehyun melawan Mino yang kalah dari pertandingan sebelumnya, dan siapapun yang kalah akan kembali melawan Seungyoon.
“what the fuck!” Mino membanting console dengan begitu kesal. Dia dikalahkan dua kali berturut-turut. “Kenapa aku sial sekali malam ini?!”
Seungyoon tersentak begitu Mino meninggikan suaranya, meski sebenarnya itu tidak ditujukan padanya. Tuan rumah hanya kesal, setelah dia kalah dari pertandingan yang akan menyelamatkannya, dia juga kalah dari gunting-batu-kertas dan tidak bisa memilih game yang dia inginkan melawan Seungyoon.
​
“Santai sedikit, kau membuatnya takut,” dengan santai Jinwoo melingkarkan tangannya di leher Seungyoon dan menepuk-nepuk kepalanya. “Apa yang ingin kau mainkan?”
​
Seungyoon tidak tau banyak mengenai game – tapi dia cukup bagus saat melawan Jinwoo tadi. “Boxing?”
​
“Pilihan tepat!” Jinwoo terlihat bersemangat mendengar pilihannya dan dia kembali tersenyum lebar, membuat Seungyoon tidak tahu harus bereaksi seperti apa. “Tenang saja. Aku akan membantumu.”
​
Mino mengerang tidak suka dan berdecih, “Apa-apaan itu?”
​
“Terserah padaku. Aku memang ingin menjadikanmu pembantu sejak lama. Apalagi di villa keluargamu sendiri? Hahaha,”
​
“Hyung!”’ Mino protes marah. Seungyoon tersenyum tidak enak – well, bukan salahnya. Jinwoo tampak biasa saja ditatap tajam seperti itu. “Lihat saja, aku akan memenangkan permainan ini!”
​
Permainan dimulai dan semakin mendekati akhir semua orang sudah tidak sabar ingin tau siapa orang yang tidak beruntung dan kalah dalam permainan ini.
Jinwoo sungguh sangat membantu. Dia mengarahkan Seungyoon untuk melayangkan pukulan menyerang karakter yang dimainkan Mino. Dari suduh matanya, Seungyoon melirik Mino mulai menggerakkan tangannya tidak sabar dan kalut, karena tahu sebentar lagi dia akan kalah. Pasti dia kesal sekali. Harga diri setinggi langit milik Song Mino pasti jatuh kalau dia kalah dan harus menuruti permintaan mereka, lebih jatuh lagi kalau dia menolak dan harus berperan jadi pembantu. Seungyoon menggeleng, kembali fokus pada permainannya. Tapi dia tersenyum senang karena akan memenangkan game kali ini.
“Bagus. Terus seperti itu, Seungyoon-ah,”
Tubuhnya seketika menegang ketika mendengar bisikan itu langsung di telinganya, bersamaan dengan sentuhan di pinggangnya dari belakang. Jinwoo yang melakukannya. Pikirannya jadi terpecah – apalagi dia merasakan hembusan napas dilehernya dan sentuhan di pinggangnya naik ke punggung. Seungyoon meringis sedikit ketika Jinwoo menggigit lehernya.
Dia baru mau berbalik sedikit untuk protes, lalu –
“YES! I TOLD Y’ALL I’LL WIN!”
Permainan sudah berakhir begitu saja. Karakter yang dimainkan Seungyoon tergeletak dengan tulisan LOSER merah besar-besar di tengah layar. Seungyoon tidak bergerak. Dia bahkan tidak sadar Jinwoo yang tadi ada di belakangnya sudah duduk santai di sofa, tersenyum tanpa dosa.
​
Mino masih melompat-lompat girang, jelas lega karena dia terhindar dari hukuman. Yang lain sudah melihatnya, Seungyoon hanya bisa menelan ludah. Perutnya bergejolak aneh merasakan tatapan itu terarah langsung padanya yang masih memegang console – bukan Mino yang melompat-lompat heboh.
Seungyoon sudah tau salah satu dari mereka harus kalah. Tapi dia tidak menyangka salah satu itu adalah dirinya, jelas-jelas dia hampir mengalahkan Mino tadi.
“Seperti perjanjian, yang kalah harus menuruti permintaan apapun dari yang lain,” Mino mengambil console yang daritadi masih Seungyoon pegang dan melemparnya ke tempat console. Mino menepuk pundaknya dua kali sebelum bergabung dengan yang lain duduk di sofa, tersisa Seungyoon yang tersenyum kecut. Kepalanya yang masih pening karena minum wine semakin pening saja.
“Mendekat ke sini,” Mino sungguh terlihat senang melihat Seungyoon berdiri di tengah-tengah ruangan dengan raut wajah memerah dan tidak tenang.
Seungyoon melangkahkan kakinya mendekat. Benar, perjanjian adalah perjanjian. Wajahnya yang sudah merah daritadi semakin memerah, dia bisa merasakannya. Dia tidak bisa membiasakan diri dengan tatapan yang diberikan mereka.
“Jadi, sebaiknya apa hukumannya?” tanya Mino.
“Menari konyol lalu diupload?”
“Berlari mengelilingi villa!”
“Ice Bucket Challenge?”
Dalam hati Seungyoon memohon, apapun asal jangan uji fisik! Bisa-bisa dia langsung collapse kalau disuruh berlari mengelilingi villa yang luas ini atau merasakan guyuran es dimalam hari.
“Tidak, tidak, tidak,” kata Mino sambil memejamkan matanya. “Aku punya ide yang lebih bagus,”
Semuanya menunggu, mengantisipasi ide bagus apa yang dikatakan Mino. Baguslah Mino yang mempimpin, pikir Seungyoon. Dia tidak akan merasakan ide gila Seunghoon di malam hari, dan yang lainnya juga.
“Seungyoon,” katanya, “Lepas pakaianmu.”
Apa? Seungyoon bisa merasakan wajahnya memerah kembali. Melepas pakaian? Dia harap ini bercanda – tapi sepertinya tidak melihat mata Mino yang berkilat memandangnya.
“Lepas semuanya?” tanya Seungyoon sambil melirik Mino.
“Semuanya.”
Itu gila! Apa yang Mino pikirkan sebenarnya? Ini bahkan lebih buruk dibanding harus berlari atau menahan dingin. “A- aku-“
​
“Ada apa, babe?”
​
Mereka semua melirik kearahnya – untuk keberapa kalinya dia tidak tahu. Kalau dia menolak, dia pasti dianggap pengecut, dan hal yang paling tidak disukainya adalah dianggap remeh. Lagipula, apa salahnya dengan membuka pakaian? Seungyoon mengalah, dia harus melakukannya.
Dengan wajah yang memerah –dia berusaha menghindari kontak mata ketika melakukannya– Seungyoon mulai membuka kaos yang dikenakannya perlahan, dan menyimpannya di atas meja. Kemudian dia beralih kebawah, melepaskan ikat pinggang, menurunkan resletingnya, dan dengan sangat ragu-ragu dia melepaskan boxer. Terakhir, kacamata juga dia simpan bersama tumpukan pakaiannya di atas meja.
Telanjang, Seungyoon berdiri di tengah ruangan. Tubuhnya mulai mengigil karena dingin, walaupun cuaca panas sangat menusuk di siang hari, malam hari terasa berbeda. Ditambah tatapan mereka yang bertemu dengan Seungyoon ketika dia mengangkat wajahnya.
​
Mereka semua diam, ada ketegangan yang aneh di sana. Seungyoon bisa merasakannya – terlihat dari cara mereka menatapnya. Seungyoon tidak pernah telanjang dihadapan orang lain sebelumnya, tapi kali ini dia sudah membulatkan tekadnya untuk melakukan hukuman yang dia dapat. Dia berusaha untuk memikirkan hal lain ditengah ketegangan ini, tapi tidak bisa karena lagi-lagi tatapan mereka pada tubuhnya sangat terasa.
​
“Berbalik,” suara Mino memecahkan keheningan. Matanya tidak meninggalkan tubuh telanjang Seungyoon ketika memerintahkannya untuk berbalik.
Seungyoon bernapas cepat dan melakukannya. Dia merasa panas – Shit, ereksi di saat seperti ini adalah hal paling memalukan yang mungkin terjadi.
“Seunghoon?” suara Mino kembali terdengar di belakangnya. “Bagaimana menurutmu?”
​
“Dia cute,” ini jawaban yang Seunghoon berikan.
​
Seungyoon menggigit bibir diam-diam. Menjadi cute bukan hal yang bisa dibanggakan seorang laki-laki. Dia menoleh ke belakang dan melihat mereka lewat bahunya – dan Seungyoon menyesal melakukan itu. Tatapan mereka semakin aneh, tidak hanya Mino tapi mata yang lain juga berkilat.
​
“Berbalik, Seungyoon.”
​
Dia pikir, semua hukuman ini sudah selesai. Dia pikir, dia hanya harus membuka pakaiannya.
​
“Kau mau melakukan apapun yang kami inginkan, ‘kan?”
​
Bukankah aku sudah melakukannya? Dia tidak menjawab dan berpikir. Jadi ternyata ini semua belum dimulai. Pertanyaan yang Mino berikan seperti tidak bisa dibantah olehnya. Seungyoon mengangguk.
​
“Kalau begitu katakan.”
​
“Aku akan melakukan apapun yang kalian inginkan,” jawab Seungyoon, menghela napas pasrah. “Sampai kapan?”
​
“Sampai kami bilang selesai,” kata Mino. “Karena kau sudah mengatakannya sendiri, kami tidak ingin mendengar kalimat penolakan darimu. Jangan mengeluh, mengerti?”
​
Seungyoon merasa dia sedang ditantang. Jantungnya berdetak tidak karuan. Dia sudah berdiri di sana telanjang di depan teman-temannya selama hampir 5 menit, jadi apalagi yang mereka ingin dia lakukan? Pasti bukan sesuatu yang bagus ketika Mino menyuruhnya mengatakan itu lagi sebagai kalimat penegasan.
​
“A- aku mengerti,”
​
“Bagus.” Katanya, matanya berkilat-kilat lagi. Seungyoon mulai memiliki firasat buruk tentang ini, kemungkinan-kemungkinan mulai memenuhi kepalanya. “Sekarang, gunakan mulutmu untuk memuaskan Seunghoon.”
Dan saat itu juga Seungyoon sepenuhnya menyadari apa peran sebenarnya disini. Jenis hukuman apa yang diterimanya karena pertandingan video game bodoh yang tidak bisa dia menangkan.
“Mino-hyung, kenapa dengan Seunghoon-hyung? ‘kan kau yang menyukainya,”
Mino menyukaiku? Dia hampir lupa kalau jantungnya sedang berdetak cepat, karena barusan jantungnya semakin berdetak tidak karuan. Perasaannya bercampur aduk sekarang, Seungyoon tidak tau harus menjawab apa.
“Melihatnya melayani orang lain akan sangat seksi. Hibur aku dengan pertunjukanmu, Seungyoon.”
Seungyoon menatap Seunghoon, yang terlihat jauh berbeda dengan Seunghoon yang biasa. Senyumnya tidak ada lagi. Dia duduk bersandar di sofa, menurunkan resleting dan membuka celananya sedikit hanya untuk mengeluarkan miliknya yang semi-keras.
Bagaimana lagi, Seungyoon merasa sangat gugup sekarang. “T-tapi-“
“Diam dan lakukan, babe.”
Panggilan penuh ancaman itu membuat Seungyoon tersentak. Apa karena Mino menyukaiku, dia selalu memanggilku seperti itu? Dia menelan ludahnya kasar, merasa semakin tidak nyaman. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Seungyoon dengan bodohnya memasrahkan diri dan inilah yang dia dapat.
Seunghoon sedang menatapnya saat Seungyoon berjalan ke tempat dia duduk, akhirnya. Setelah berhadapan dengan Seunghoon, dia berlutut beralaskan karpet dibawahnya. Melihat ke atas – kemana saja, menghindari benda dihadapannya. Seungyoon menatap lurus mata Seunghoon.
​
Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana cara melakukannya?
​
“Kau harus minta ijin dulu, Seungyoon,” Jinwoo terdengar menahan tawanya ketika mengatakan itu.
​
Lagi, Seungyoon menelan ludahnya kasar, malu setengah mati. “Seunghoon-hyung,” Mulutnya terasa kering sebelum akhirnya dia mulai mencicit. “B-bolehkah aku-“
​
“Kami tidak bisa mendengarmu.”
​
Seungyoon menghela napas. Dia tau, Mino dan yang lainnya benar-benar mempermalukannya. “Seunghoon-hyung,” kali ini lebih keras dari sebelumnnya, dan Seungyoon memberanikan diri melingkarkan telapak tangannya pada milik Seunghoon yang semi-keras itu. “Boleh aku memasukkannya ke dalam mulutku?”
​
Seunghoon menggeram rendah dan suaranya serak, “Tentu, Seungyoon-ah. Lakukan yang kau mau.”
​
Seungyoon tidak tau apa yang harus dia lakukan dengan benda itu, selain membungkuk dan memasukkan benda dalam genggamannya ke mulutnya. Menjilatnya perlahan-lahan, karena dia merasa sangat canggung melakukan hal seperti ini – bagaimana tidak? Seungyoon memejamkan matanya, membayangkan bagaimana kalau dia yang mendapat perlakuan seperti ini, walaupun dia belum pernah mendapat blowjob dari siapapun sebelumnya. Jangankan itu, mencium gadis selain ibunya saja belum pernah. Tapi lihat dia sekarang, memberikan blowjob pada Seunghoon. Laki-laki. Seniornya.
​
Ini pengalaman pertamanya melakukan hal berbau seksual dengan orang lain setelah melepaskan seluruh pakaiannya tadi – Seungyoon tidak bisa berhenti berpikir kalau ini sangat gila.
“Oh, terus seperti itu, Seungyoon-ah,” Seunghoon mendorong miliknya semakin jauh ke dalam mulut Seungyoon, dan dia tiba-tiba mengingat kejadian saat pertandingan tadi ketika Jinwoo mengatakan hal yang sama.
Sulit memasukkan semua kedalam mulutnya – ukurannya sangat mendesak kerongkongannya. Seungyoon mencoba untuk tidak membuat benda itu bergesekkan dengan giginya. Dia mulai mengerang ketika Seunghoon menahan kedua sisi kepalanya dengan tangannya dan menggerakkan miliknya sendiri.
Seunghoon semakin bersemangat, dia menggerakkan pinggulnya perlahan sambil menahan kepala Seungyoon – itu sangat intens. Seungyoon menutup mata dan mengerang lagi, membayangkan dirinya seperti wanita-wanita yang sering dia lihat di film biru yang pernah dia tonton. Matanya setengah terbuka dan memandang keatas dengan sayu, penasaran dengan ekspresi yang Seunghoon buat ketika dia melakukan ini.
​
“Shit. That’s fucking hot,” Geraman Seunghoon semakin keras, juga gerakan pinggulnya. Kepalanya menengadah ke atas.
​
Seungyoon bisa mendengar kekehan Mino dari belakang. “Ternyata kau tau bagaimana caranya memuaskan seseorang, Seungyoon?”
Seungyoon menggerakan badannya perlahan – secara tidak sadar dia meliukkan badannya dan mengencangkan otot-otot bahunya. Dadanya naik turun, sekujur tubuhnya sangat panas, dan dengan begitu saja dia sudah tahu, ereksinya mengeras diantara kakinya. Dia belum pernah tertarik pada laki-laki seumur hidupnya, tapi dia bisa sekeras ini hanya karena memberikan blowjob.
​
Sepasang tangan merambat di pinggulnya, membelai pinggulnya pelan. Seungyoon mengerang. Dia tidak tau itu tangan siapa. Tangan itu bergerak ke atas dan ke bawah, perlahan bergerak dari pinggul ke perut dan dadanya.
​
“Ah I can't hold it, babe,” Mino. Itu Mino yang bergumam tepat di belakangnya. Mino menyentuhnya dengan sangat-sangat dekat, jauh daripada sentuhan orang lain sebelum ini jika mengesampingkan milik Seunghoon yang sekarang ada di dalam mulutnya.
“Mmh- “ Seungyoon membuat erangan protes. Ini akan terlalu cepat untuknya, dia sama sekali tidak siap mendapat sentuhan lain, apalagi di bagian-bagian pribadi tubuhnya.
“Kau harus melakukan apapun yang kami inginkan, ingat?” Seungyoon terkesiap – iya, sekarang dia ingat dengan hukuman dan perjanjian bodoh yang mengikatnya.
Seungyoon menarik mulutnya dan menoleh pada Mino, “Aku-“
“Apa yang kau lakukan?!” Seunghoon menjambak rambutnya, membawa Seungyoon pada posisi sebelumnya, mendorong miliknya kembali ke dalam mulut Seungyoon yang terbuka. Dia hampir tersedak.
“I want you.” Kata Mino.
​
Seungyoon mengigil, dia merasa takut. Apa mereka merencakan semua ini, sejak awal? Ini alasannya ada bersama dengan mereka sekarang?
Matanya tidak bisa menyembunyikan rasa takut, karena itu Taehyun bisa merasakannya. “Kami tidak merencanakan ini, Seungyoon-hyung, jika itu pertanyaanmu.” Kata Taehyun dari sisi lain ruangan. Taehyun telah menjadi begitu tenang ketika hukuman ini dimulai, tapi gundukan besar di antara kakinya tidak bisa berbohong. Taehyun juga pasti menikmati, dan menginginkannya.
“Karena kau sudah setuju untuk melakukan hukuman ini, babe, maka kau harus menyelesaikannya.”
Seungyoon kembali mengalihkan pandangannnya pada Seunghoon, yang sekarang menyeringai lebar dan dengan tiba-tiba menusuk kerongkongannya dengan sangat kasar. “mmmmpph!” Seungyoon mengerang ketika lagi-lagi Seunghoon menahan kedua sisi kepalanya.
“Ah, mulutmu nikmat sekali, Seungyoon-ah,” Seungyoon memejamkan matanya ketika dia merasakan Seunghoon cum di dalam mulutnya, menelannya. Dia bahkan tidak bisa bernapas dengan baik dan terbatuk-batuk karena saluran pernapasannya tertutup cum. Setelah beberapa lama mendiamkan miliknya didalam mulut Seungyoon, Seunghoon menariknya keluar dan bangkit dari sofa.
​
Seungyoon sepenuhnya takut sekarang. Persetan dengan penjelasan Taehyun – mereka sengaja melakukan ini. Seungyoon, dengan bodohnya, baru menyadari kesalahannya yang mau saja dijebak hingga berakhir dengan situasi seperti ini.
​
Seungyoon masih terbatuk-batuk ketika Mino mulai menggerakan tangannya dari pinggul turun ke ereksinya yang keras. Seungyoon sangat terkejut – mulutnya terbuka lebar dan tubuhnya tersentak ketika Mino melakukan itu. Jantungnya terus berdebar.
​
Mino terus memompa miliknya – sementara Seungyoon bergetar ketakutan, mencoba memproses kejadian apa yang sekarang sedang terjadi padanya. Seungyoon tidak bisa berpikir bagaimana caranya keluar dari situasi ini!
​
“Kumohon, berhenti.” Seungyoon tersentak saat Mino melarikan tangannya di sekitar paha dalamnya, mengelusnya. “Kumohon, kumohon, aku- aku tidak tahu kalau aku O-ohh!” Seungyoon jatuh dengan posisinya yang masih berlutut, dengan ditopang kedua lengannya. Napasnya cepat, jantungnya berdetak tidak kalah cepat.
​
Dia sedang telanjang, dilihat semua orang, di ruang tengah, mulutnya penuh dengan bekas cum, dan Mino tidak mengindahkan permohonannya, tetap menggerayangi setiap inch tubuhnya – harus berapa kali dia mengulang kalau ini sangat gila?
​
Seungyoon sangat mengerti apa yang mereka inginkan darinya sekarang. Mereka ingin Seungyoon jadi mainan, seperti wanita jalang yang ada di klub malam; masalahnya, Seungyoon bukan wanita tapi keadaannya sekarang membuat dia sama sekali tidak bisa menolak.
​
Seungyoon terengah-engah di atas karpet ketika Mino menaikkan tubuh bagian bawahnya dan tidak berhenti memompa ereksinya yang keras. Memberi akses penuh pada Mino untuk memainkan tubuhnya lebih dekat lagi.
​
“Katakan kau menginginkan ini, Seungyoon.” Bisik Mino tepat di telinganya dari belakang. Seungyoon mengerang tidak jelas – mengeluarkan bunyi-bunyi tidak koheren ketika Mino hanya menggesek-gesekkan telunjuknya di sekitar lubang Seungyoon. “Cepat katakan, kau ingin aku melakukan ini pada tubuhmu!”
​
Teriakan itu, entah kenapa, membuat Seungyoon sangat terangsang. Ditambah tamparan keras pada pantatnya. Dia menutup matanya rapat, tersentak. “A-aku- Mino-”
​
Seungyoon kembali mendengar kekehan Mino. “Ambilkan lube,” dan Seungyoon mendengar langkah kaki. Dia membuka mata dan melihat Seunghoon mendekati mereka dengan botol kecil. Mino mengambilnya, tidak tahu apa yang dilakukan Mino dengan botol itu sampai Seungyoon bisa merasakan sesuatu yang dingin dan licin memasuki lubangnya, memompanya di dalam sana. Dia tahu, itu jari Mino. Badannya tidak berhenti bergetar walaupun Mino mengulang kata-kata yang seharusnya bisa menenangkannya. Dia takut. Seungyoon kembali menolehkan pandangannya kebelakang, melewati sudut bahunya dan lagi, dia menyesal melakukan itu karena dia bisa melihat ereksi besar Mino keluar dari celana jeans-nya, berlutut tepat di belakang Seungyoon. “Hah, baiklah kalau itu maumu, babe.”
​
Seungyoon memejamkan matanya, benar-benar tidak ingin Mino melakukannya. Apa ini akan menjadi pengalaman seks pertamanya? Bukan dengan seorang wanita seperti yang dia bayangkan, tapi dengan temannya, seorang laki-laki. Hanya karena kalah taruhan. Tidak, pikirnya. Seungyoon tidak mau jadi mainan mereka – atau sekarang Mino!
​
“Shit!”
​
Seungyoon bangkit dan kembali terjatuh pada tangan dan lututnya. Dia memberontak hebat sampai Mino terjungkal ke belakang. Seungyoon merangkak menjauh dari Mino, tapi tidak berselang lama Seungyoon kembali merasakan sepasang tangan memeluk pinggulnya dari belakang.
​
“Jangan lakukan itu padaku!” Seungyoon membalikkan tubuhnya dan memohon pada Mino. Tubuhnya yang tengkurap sekarang bertopang pada kedua sikunya. “Kumohon!”
​
“Seungyoon, rileks,” kata Jinwoo pelan. Dia berjalan mendekat ke arah Seungyoon dan berjongkok. “Semuanya akan lebih mudah jika kau tidak melawan.”
​
“Aku tidak mau melakukan ini,” Seungyoon mengerang. Tubuhnya daritadi tidak berhenti bergetar karena takut, dan dia sudah menangis. Mino masih memegang pinggulnya, tapi sudah tidak erat seperti tadi. Mata basahnya menatap semua orang yang ada disana dengan kabur. Menatap Jinwoo, Taehyun, Seunghoon, dan terakhir yang ada di hadapannya sekarang. “Kumohon, lepaskan aku. Aku- aku akan mencuci pakaian, juga hal lainnya. Aku-“
​
“Cih! Kau sudah berkata ya tadi,” Mino kesal. Dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Seungyoon, menatapnya dengan jarak yang sangat dekat. Mencium dan menjilat bibir Seungyoon yang gemetaran.
​
Melihat itu, Jinwoo menghela napasnya. “Baiklah,” katanya. “Bagaimana jika berhenti sebentar? Kau tidak ingin memaksanya melakukan hal yang tidak dia inginkan, ‘kan?”
​
Mino mendelik tajam pada Jinwoo. “What’re you talking about? Dia bilang dia menginginkannya, hyung.” Kemudian tatapan Mino kembali pada Seungyoon. Dengan tangannya, Mino mengusap dagu Seungyoon yang berbekas lelehan cum Seunghoon. “Iya kan, babe?”
​
“Mino, sebentar saja. Seungyoon hanya ketakutan.”
​
Seungyoon menatap karpet – dan kaget ketika Mino melepaskan lingkaran tangan di pinggulnya. Sekarang dia duduk di depan Mino yang berlutut dan terus menatapnya. Di sini dirinya, Seungyoon, sudah meminta Mino untuk melakukan itu padanya, dan mundur karena merasa takut. Seungyoon menelan ludahnya kasar.
​
“Apa yang kau takutkan, Seungyoon?” tanya Jinwoo.
​
Seungyoon diam sambil mencoba mengatur napasnya agar normal kembali, dan mencari jawaban untuk pertanyaan itu. “Aku- aku takut itu akan menyakitkan,” akhirnya dia mengaku. “Aku tidak pernah melakukan itu sebelumnya!”
​
Mino tersenyum padanya. “Aku akan mempersiapkanmu dengan benar, babe, supaya tidak terlalu sakit ketika melakukannya.”
​
“Mungkin akan sedikit sakit, tapi semakin kau rileks, sakitnya semakin tidak terasa.”
​
Mino kembali mengelus pinggul Seungyoon pelan, meliriknya. “Aku ingin melakukannya denganmu karena aku menyukaimu, Seungyoon.”
“Di balik seragam dan kacamatamu itu, aku tau kau sangat seksi.” Tambah Mino.
Wajah Seungyoon memerah. Dalam keadaan terangsang seperti ini, Mino berkata dia seksi. Dia belum pernah dapat pujian begitu sebelumnya.
“Sejak kapan?” Dadanya berdebar-debar. Tidak tahu ini karena dia takut – atau senang. Dia ini bukan siapa-siapa, tapi Mino yang pangeran sekolah itu, tertarik padanya. “Sejak kapan hyung, berpikir seperti itu?”
Seungyoon merasakan tangan Mino mengelus paha dalamnya perlahan. “…Ahh.”
“Mana kutahu, apa itu penting?”
Seungyoon kembali memerah malu karena tangan Mino perlahan naik dan mengelus lubangnya yang masih berbekas cairan lube. “Katakan, babe, Aku tahu kau menginginkan ini.”
Iya – Seungyoon menginginkannya. Dia sangat terangsang dengan apa yang Mino lakukan padanya. Seungyoon memejamkan matanya sejenak, mengerang pelan ketika Mino memijat pantatnya sensual. Seungyoon benar-benar menggeliat nikmat saat itu. Pikirannya sudah tidak peduli lagi kalau dia laki-laki, dan kalau dia melakukan ini dengan temannya.
​
“Kau akan menikmatinya, sayang. Aku janji,”
​
“Ahh, Mino-“ dia kembali mengerang dan mendekap Mino ketika jari-jari tangan Mino mengelus lubangnya lagi. Mendorong jari tengahnya masuk, menyentuhnya dengan cara yang jauh lebih dekat dari orang lain pernah menyentuhnya. “Ahn- hha-, Mino-hyung!”
​
“Jadi itu artinya kau menginginkannya?”
​
Seungyoon membiarkan jari tengah Mino diam untuk beberapa saat. Detik berikutnya bergerak-gerak di dalam sana. Dia menikmatinya – rasanya menyenangkan. Sangat menyenangkan. Inilah yang aku inginkan. Semuanya terasa jelas sekarang. Kenapa dia tidak menolak, kenapa dia tidak memberontak, Kenapa dia, membiarkan Mino melakukan ini. Menggunakan dirinya. Tubuh ini ingin merasakan sentuhan yang belum pernah dia dapat – bahkan tubuh ini lebih jujur daripada pikiran dan mulutnya yang menyangkal, Seungyoon sama sekali tidak keberatan untuk menjadi mainan Mino malam ini. Sejak dia bersedia membuka pakaiannya.
​
“Ya,” bisik Seungyoon, menengadahkan kepalanya. “Aku menginginkannya, Mino-hyung.”
​
Mino mendesahkan namanya tepat di telinga Seungyoon dan itu membuatnya merinding. “Babe, aku tidak akan membuatmu berhenti mendesah dan menjerit malam ini.”
​
Seungyoon menarik napas. Mino memegang tangannya, menuntun Seungyoon untuk berbalik dan menghadap karpet, bertopang pada kedua telapak tangan dan lututnya. Seungyoon merasakan Mino naik ke atas tubuhnya, menekan seluruh berat badannya menempel dengan punggung Seungyoon.
Mino memompa miliknya sendiri hingga benar-benar tegang. “Aku tidak membawa pengaman, so I’ll do you raw.” Mino memposisikannya di depan lubang Seungyoon yang sudah dia oleskan lube cukup banyak, supaya tidak terlalu sakit, dan mendorongnya masuk.
​
Seungyoon menggeliat panik. Melihat itu, Mino menaruh tangan kirinya di bahu Seungyoon agar Seungyoon tidak terlalu banyak bergerak. Tangan yang satu lagi dia gunakan untuk menahan pinggul Seungyoon. “Ahh.. s-sakit,”
​
Seungyoon mendongak putus asa dengan air mata di kedua sudut matanya. Sungguh – rasanya penuh sekali. Lubang pantatnya terasa sangat panas dan dia bisa merasakan dengan jelas bagaimana milik Mino perlahan-lahan masuk. Itu sangat sakit. “Hy- yung, sa- sakit se- Ah!”
​
“Fuck, kau sangat sempit,” Tidak tau itu artinya Mino mengeluh atau memberikan pujian padanya. Waktu terasa berjalan lama sekali hingga akhirnya Mino berhenti sebentar. “Baru masuk setengah, babe, tapi rasanya sudah jauh lebih nikmat daripada dengan wanita-wanita lain.”
​
Setelah mengusap peluh yang menghalangi matanya, Mino menaruh kedua tangannya di pinggul Seungyoon, menahannya selama dia menarik miliknya perlahan, menyisakan ujungnya sebelum mendorong masuk ke lubang Seungyoon dalam sekali hentak.
​
“AAAAAHH!” Seungyoon menjerit – karena itu benar-benar menyakitkan. Seungyoon jatuh dari posisi berlututnya yang sekarang ditopang sikunya.
“Sabar, sayang. Rasa sakitnya akan hilang.” Bisikan Mino yang seharusnya bisa menenangkannya kembali terdengar, tapi itu sama sekali tidak membantu. Dia tidak bisa berhenti merasakan kalau lubangnya sekarang seperti terbelah dua, walaupun Mino berhenti tapi rasa panasnya tidak hilang.
​
Seungyoon menjerit lagi ketika Mino kembali menghentak lubangnya. Lagi, lagi, dan lagi. Sakitnya mulai berkurang dan Mino masuk dengan lebih halus; tidak, tidak, sakitnya tidak terasa lagi ketika-
“Ohh-h anh- ahhh!” Seungyoon kembali menegadahkan kepalanya ke atas, bahkan Mino sampai bisa merasakan tubuh Seungyoon bergetar seluruhnya seperti tersengat listrik. Dan orang berpengalaman seperti Mino jelas sudah tahu apa yang terjadi pada Seungyoon.
“Oh, disana?” Mino mendorong miliknya dengan kasar di tempat yang sama berulang kali – dan yang terdengar dari Seungyoon hanya lenguhan nikmatnya saja. Memangnya kata apa lagi yang sempat terpikirkan olehnya disaat seperti ini? “Bagaimana rasanya, babe?” suara Mino sangat rendah dan serak. Ditambah, Mino membisikkannya tepat di telinganya dengan masih memompa lubangnya. Seungyoon tidak punya kekuatan lagi untuk melawan.
Perutnya terasa penuh sekali. “ah! A-ah… terus, terus lakukan itu, hyung…” Seungyoon bisa merasakan ereksinya semakin mengeras. Sakit kehilangan sentuhan Mino, disaat Mino membuatnya terangsang.
​
Mino tertawa puas, dan menarik bahu Seungyoon agar telapak tangannya tidak menahan karpet lagi. Ah, Seungyoon sangat menyukainya. Mino memeluknya erat dari belakang sambil memberi kecupan di sekitar leher dan perpotongan bahu Seungyoon.
Mino menggeram rendah, mengeluarkan suaranya yang serak. “fuck, Kang Seungyoon. Kau menyukainya?” Erangan nikmat yang keluar dari mulut Seungyoon sudah jawaban yang cukup untuknya. “Lubangmu yang paling sempit dari siapapun yang pernah kumasuki, babe.”
Dalam keadaan lubangnya sedang disodok kasar, hal yang dikatakan Mino terdengar sangat romantis di telinga Seungyoon. Mino melepaskan pelukannya dan kembali menahan pinggulnya, membiarkan Seungyoon kembali menungging – sekarang seluruh berat badan Seungyoon dia jatuhkan di karpet. Seungyoon sudah tidak ada tenaga lagi untuk menopang menggunakan kedua tangannya. Bukan, dia tidak sedang mengeluh. Dia sangat menikmati melakukannya seperti ini.
“Ah- ah- ah- Mino-hh p-pelan ahh” Seungyoon mengerang, menggeliat tidak berdaya di atas karpet, di bawah Mino yang justru semakin bersemangat menyodok ereksinya. Tubuhnya terguncang-guncang menggesek karpet meskipun Mino sudah menahan pinggulnya – segitu hebatnya Mino.
“Kau ingin cum, sayang?” Hal yang ditunggu-tunggu Seungyoon akhirnya terjadi, Mino menyentuh ereksinya yang semakin keras entah sejak kapan.
Telapak tangan Mino sangat hangat, tapi Mino hanya mengusapnya, bukan memompanya seperti yang Seungyoon inginkan. Itu menambah siksaannya yang belum cum daritadi. “Keluarkan saja.”
​
Mino menampar pantat Seungyoon dan itu membuatnya tersentak, sebelum turun mendekat ke punggung Seungyoon dan mengelus kulit halusnya. Berhenti di sekitar dada, memeluknya lagi. Memberikan kecupan di punggungnya. Rangsangan yang diterima tubuhnya seperti tidak berakhir.
Dorongan ereksi Mino semakin kasar dan itu terasa luar biasa nikmat. Seungyoon sudah tidak berani lagi untuk mengelak kalau dia tidak menyukai yang dilakukan Mino saat ini. Seungyoon bangun siang hari itu sebagai laki-laki normal yang sedang berlibur bersama teman sekolahnya, tapi sekarang, dua belas jam kemudian, dia sudah seperti jalang untuk Mino.
Yang tidak butuh lama sejak sodokan panas dan keras ereksi Mino membuat Seungyoon gila – untuk cum dan menyemburkannya di karpet dan mengotori tangan Mino. “ngah- ahh- ha! Mino-hh Hyung!” Seungyoon mengepalkan tangannya dan memejamkan matanya erat-erat.
​
Seungyoon terengah-engah, menengadahkan kepalanya ke belakang merasakan milik Mino yang semakin liar menyentak lubangnya. “Ah- ketatkan lubangmu seperti itu, babe, ahhh- kau semakin nikmat, kau tahu itu?”
Dengan cepat Mino membalikkan tubuh lemas Seungyoon untuk berhadapan dengannya. Matanya yang setengah terbuka membuat Seungyoon semakin terlihat seksi, pikirnya. Mino turun dan membawa Seungyoon ke dalam pelukannya, menghapus peluh di dahi Seungyoon, dan membenarkan rambutnya yang berantakan.
​
Seungyoon hampir tidak sadarkan diri ketika dia merasakan Mino mencium bibirnya kasar dan tidak memberinya waktu untuk bernapas – tapi Seungyoon menyukainya ketika Mino melakukannya dengan kasar. Seungyoon juga menyukai deru napas Mino yang terburu-buru di telinganya ketika sodokan pinggulnya semakin cepat.
​
“Sayang, aku cum- ugh- ketatkan lubangmu!” Seungyoon hanya bisa mengangguk lemah dan tidak lama kemudian dia bisa merasakannya, bagian bawahnya terasa hangat dan hentakan Mino mulai perlahan-lahan berkurang. Seungyoon menyukainya sampai akhir – sampai bagian Mino mengeluarkannya di dalam.
​
Mino mendiamkannya di dalam sana untuk beberapa lama sambil mencium bibir Seungyoon sekilas sebelum menarik miliknya keluar. Lelehan cum mulai terlihat mengalir di paha dalam Seungyoon, dan Mino dengan sengaja mengambil lelehan cum lalu mengoleskan itu di seluruh bagian pahanya. “Seungyoon, kau nikmat sekali. Tidak tahu harus berapa kali lagi aku mengatakan itu.” Terakhir Seungyoon kembali mendengar kekehan Mino sebelum dia bangkit dan berjalan menjauh meninggalkannya yang masih tergeletak di atas karpet.
​
Lubang pantat Seungyoon berdenyut-denyut nyeri, sakit. Tapi tetap saja nikmat. Dia merasa sekujur tubuhnya sangat lengket cairan cum yang entah miliknya atau Mino. Lutut dan pergelangan tangannya pegal. Pinggul dan punggungnya juga. Dia masih gemetaran dengan mata sayu yang setengah terbuka. Walaupun selama melakukannya dengan Mino, Mino terus mengusap keringat yang membasahi wajahnya, badan terutama rambutnya sangat basah. Seungyoon terlihat sangat kacau; sesak napas; lelah – tapi dia menginginkannya lagi.
​
Seungyoon baru turun dari surganya ketika dia menyadari, daritadi semua orang melihat adegan seksnya dengan Mino. Jinwoo, Seunghoon, Taehyun, semuanya duduk di sofa dengan gundukan yang terlihat jelas diantara kaki mereka.
​
Seungyoon mendudukkan tubuhnya dan berlutut di lantai – satu menit, meringis setiap kali bergerak. Terengah-engah merangkak mendekati sofa.
“Siapa selanjutnya?”
​
Seungyoon mengeluarkan senyum terbaiknya dengan pandangan kabur. Mino tidak berkata hukumannya sudah selesai, ‘kan?
​
FIN
â–²
